Apa Pokok Pemikiran Maturidiyyah?

Apa Pokok Pemikiran Maturidiyyah?

Siapakah Maturidiyyah?

Dr. Ghalib ‘Iwaji berkata:

تنتسب هذه الطائفة إلى أحد علماء القرن الثالث الهجري وهو محمد بن محمد بن محمود المعروف بأبي منصور الماتريدي

“Kelompok ini disandarkan kepada seorang ulama abad 3 Hijriah yaitu Muhammad bin Muhammad bin Mahmud yang dikenal dengan Abu Manshur Al-Maturidi.” (Firaq Mu’ashirah Tantasibu Ilaa Al-Islam)

Lantas, apa saja pokok pemikiran sekte Maturidiyyah?

 

Pokok Pemikiran Maturidiyyah

Dr. Syamsuddin Al-Afghani berkata:

الحاصل: أن الماتريدية والأشعرية فرقة واحدة في المنهج وأصول العقائد مخالفة لسائر الفرق مخالفة جوهرية

“Walhasil, sekte Maturidiyyah dan Asyariyyah adalah satu sekte dalam hal manhaj dan pokok akidah yang bertentangan dengan sekte lainnya dengan pertentangan yang substansial.” (‘Ada Al-Maturidiyah Li Al-‘Aqidah As-Salafiyyah)

Artinya, pokok pemikiran sekte Maturidiyyah dan Asy’ariyyah adalah sama.

Asy’ariyyah menyatakan bahwa iman itu hanyalah keyakinan dalam hati. Maka begitu pula Maturidiyyah.

Asy’ariyyah menyatakan bahwa Al-Quran adalah ungkapan atau hikayat tentang perkataan Allah dan bukan perkataan Allah. Maka begitu pula Maturidiyyah.

Asy’ariyyah mendahulukan akal dibandingkan naqal tatkala terjadi kontradiksi. Maka begitu pula Maturidiyyah.

Asy’ariyyah menolak ketinggian Allah di atas Arsy-Nya. Maka begitu pula Maturidiyyah.

Asy’ariyyah menolak hadis ahad dijadikan dalil dalam masalah akidah. Maka begitu pula Maturidiyyah.

Dan demikianlah seterusnya. Pokok pemikiran kedua sekte itu sama. Lantas, apakah tidak ada perbedaan sama sekali antara keduanya?

Ada, namun itu bukanlah perbedaan yang substansial.

Seperti apa contohnya?

 

  1. Menurut akal apakah Allah boleh menyiksa orang yang menaati-Nya atau tidak boleh?

Asy’ariyyah berpendapat boleh, sedangkan Maturidiyyah berpendapat tidak boleh.

Tentu saja di antara 2 pendapat ini, pendapat Maturidiyyah yang benar.

Secara akal, tidak mungkin Allah menyiksa orang yang menaati-Nya, karena itu berkonsekuensi bahwa Allah memiliki sifat zalim yang tentu saja tidak mungkin Dia miliki. Dan itu juga telah Dia tegaskan dalam Al-Quran. Dia berfirman:

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

“Maka apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (QS. Al-Qalam: 35)

Dan itu juga merupakan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah.

 

  1. Apakah mengenal Allah adalah kewajiban berdasarkan akal atau syariat?

Asy’ariyyah berpendapat bahwa mengenal Allah adalah kewajiban berdasarkan syariat, sedangkan Maturidiyyah berpendapat bahwa mengenal Allah adalah kewajiban berdasarkan akal.

Tentu saja di antara 2 pendapat ini, pendapat Asy’ariyyah yang benar. Sebab, walaupun dengan akal kita bisa mengenal Allah, tetapi dalam hal kewajiban, akal semata tidak cukup.

Dr. Syamsuddin Al-Afghani berkata:

نفس معرفة الله تعالى أمر فطري جبلي فطر الله الناس عليه، لا ينحرف عنه إلا من فسدت فطرته، غير أن الذي يدرك بالعقل ومركوز في الفطرة هو معرفة الله الإجمالية؛ أما معرفة الله التفصيلية بأسمائه وصفاته فلا تحصل إلا بالشرع.

“Mengenal Allah itu sendiri merupakan perkara fitri dan bawaan yang Allah tetapkan pada manusia. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang telah rusak fitrahnya. Hanya saja, yang bisa diketahui oleh akal dan tertanam dalam fitrah adalah mengenal Allah secara umum. Adapun mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya secara terperinci, maka itu tidak bisa diketahui kecuali dengan syariat.” (‘Ada Al-Maturidiyah Li Al-‘Aqidah As-Salafiyyah)

 

  1. Apakah perkataan Allah bisa didengar?

Asy’ariyyah berpendapat bahwa perkataan Allah bisa didengar, sedangkan Maturidiyyah berpendapat tidak bisa.

Tentu saja di antara 2 pendapat ini, pendapat Asy’ariyyah yang benar.  Dan itu juga pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah. Namun….

Dr. Syamsuddin Al-Afghani berkata:

وأما قول الأشعرية – مع أنه بظاهره موافق لقول السلف – أبعد في بداهة العقل، وأشد فسادا، لأنهم – أيضا – قائلون بالكلام النفسي الذي ليس بحرف ولا صوت، فكيف يقولون مع هذا بسماع كلام الله تعالى؟!

“Adapun pendapat sekte Asy’ariyyah-walaupun lahirnya sesuai dengan pendapat salaf-, maka itu pendapat yang lebih jauh dari akal sehat dan lebih rusak. Sebab, mereka juga berpendapat bahwa Allah hanya berbicara dengan kalam nafsi (kalam batin) tanpa huruf dan suara. Maka bagaimana bisa bersamaan dengan itu mereka berpendapat bahwa mungkin mendengar perkataan Allah?!” (‘Ada Al-Maturidiyah Li Al-‘Aqidah As-Salafiyyah)

Sebagian pengikut sekte ini menyadari kerusakan pendapat mereka itu, karenanya mereka berusaha ‘meralat’ pendapat mereka dengan menyatakan bahwa yang dimaksud dengan mendengar perkataan Allah adalah memahami dan mengetahui perkataan Allah.

Kalau demikian, perbedaan pendapat antara mereka dengan Maturidiyyah hanyalah secara istilah saja. Adapun secara hakikat, tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka.

Dan masih ada lagi perbedaan antara Asy’ariyyah dan Maturidiyyah. Namun, sekali lagi, perbedaan itu bukanlah perbedaan yang substansial.

 

Allahu a’lam

 

Siberut, 24 Jumada Al-Ulaa 1443

Abu Yahya Adiya