Apa Pokok Pemikiran Syiah?

Apa Pokok Pemikiran Syiah?

Siapakah Syiah?

Syiah secara bahasa artinya golongan. Sedangkan secara istilah:

يطلق على هذه الفرقة التي تزعم أنها متبعة لأهل البيت وهم علي بن أبي طالب رضي الله عنه وذريته

“Nama itu digunakan untuk kelompok yang mengaku mengikuti ahlulbait yakni ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.” (Lamhah ‘An Al-Firaq Adh-Dhaallah)

 

Kapan Syiah Muncul?

Syekh Nashir Al-Qafari berkata:

والذي أرى أن الشيعة كفكر وعقيدة لم تولد فجأة، بل إنها أخذت طوراً زمنياً، ومرت بمراحل..

“Pendapat saya bahwa Syiah sebagai sebuah pemikiran atau akidah tidak muncul tiba-tiba. Bahkan, Syiah mulai ada dalam suatu periode dan melewati beberapa fase..

ولكن طلائع العقيدة الشيعية وأصل أصولها ظهرت على يد السبئية باعتراف كتب الشيعة التي قالت بأن ابن سبأ أول من شهد بالقول بفرض إمامة علي، وأن علياً وصي محمد

Namun, awal akidah dan dasar Syiah muncul lewat pengikut ‘Abdullah bin Saba berdasarkan pengakuan dalam kitab-kitab Syiah yang menyebutkan bahwa ‘Abdullah bin Saba adalah orang pertama yang bersaksi dengan perkataan akan wajibnya kepemimpinan bagi ‘Ali dan bahwa ‘Ali mendapat wasiat dari Muhammad ﷺ untuk menjadi pemimpin.” (Ushul Madzhab Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsnai ‘Asyariyyah)

‘Abdullah bin Saba adalah orang Yahudi yang pura-pura masuk Islam di zaman khalifah ‘Utsman bin ‘Affan lalu menggerakkan masyarakat untuk memberontak kepada beliau.

 

Pokok Pemikiran Syiah

Syiah itu terpecah menjadi berbagai macam sekte. Di antara sekte Syiah yang terkenal dan banyak tersebar hingga saat ini yaitu Syiah Imamiyyah.

Apa pokok pemikiran Syiah Imamiyyah?

  1. Tidak mengakui kepemimpinan tiga khalifah pertama Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman).

Bahkan, mereka menganggap ketiganya murtad sepeninggal Nabi ﷺ. Malah, bukan mereka saja, seluruh sahabat Nabi pun mereka anggap murtad sepeninggal Nabi ﷺ, kecuali beberapa orang saja.

Al-Kulaini, seorang ulama syiah berkata:

341-حنان عن أبيه عن أبي جعفر (ع) قال : كان الناس أهل ردة بعد النبي (صلى الله عليه وآله) إلا ثلاثة فقلت: ومن الثلاثة؟ فقال: المقداد بن الأسود وأبو ذر الغفاري و سلمان الفارسي رحمة الله وبركاته عليهم

“341-Hanan dari ayahnya dari Abu Ja’far ia berkata, ‘Seluruh manusia menjadi murtad sepeninggal Nabi ﷺ kecuali tiga orang.’ Aku pun bertanya, ‘Siapa 3 orang itu? ‘ Ia menjawab, ‘Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi, semoga rahmat Allah dan berkah-Nya tercurah kepada mereka.” (Al-Kafi)

Tentu saja itu pendapat yang bertentangan dengan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Ahlussunnah wal Jama’ah mengakui sahnya kepemimpinan 3 khalifah pertama Khulafaur Rasyidin. Dan mereka menganggap bahwa para sahabat nabi adalah orang-orang yang adil dan baik sepeninggal Nabi ﷺ.

Imam Ibnu ‘Abdil Barr berkata:

كان الصحابة رضى الله عنهم قد كفينا البحث عن أحوالهم لإجماع أهل الحق من المسلمين وهم أهل السنة والجماعة على أنهم كلهم عدول

“Para sahabat Nabi-semoga Allah meridai mereka-tidak perlu kita periksa lagi keadaan mereka, karena sudah kesepakatan orang-orang yang mengikuti kebenaran dari kaum muslimin yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa mereka semua adil.” (Al-Isti’aab fii Ma’rifah Al-Ashhaab)

 

  1. Meyakini adanya 12 imam yang dianggap maksum dan bebas dari dosa, dan mereka menganggap itu termasuk rukun iman.

Seorang ulama Syiah yang masyhur, Muhammad Husein Ali Kasyif Al-Ghita’ berkata:

 ولكن الشيعة الإمامية زادوا (ركناً خامساً) وهو : الاعتقاد بالإمامة. يعني أن يعتقد: أن الإمامة منصب إلهي كالنبوة،

“Namun, Syiah Imamiyah menambah ‘rukun yang kelima’ yaitu keyakinan tentang imamah (kepemimpinan), yakni meyakini bahwa imamah adalah kedudukan yang ditunjuk  langsung oleh Tuhan sebagaimana halnya dengan kenabian.” (Ashlu Asy-Syi’ah wa Ushuluha)

Ia juga berkata:

والإمامة متسلسلة في اثني عشر وكل سابق ينص على اللاحق ويشترطون أن يكون معصوما كالنبي عن الخطأ والخطيئة وإلا لزالت الثقة به

“Dan imamah itu sambung-menyambung pada 12 imam. Setiap imam yang sudah berlalu menunjuk imam yang berikutnya. Dan mereka (Syiah Imamiyah) mensyaratkan seorang imam haruslah terjaga dari dosa dan kesalahan seperti Nabi. Kalau tidak, hilanglah kepercayaan kepadanya.” (Ashlu Asy-Syi’ah wa Ushuluha)

Tentu saja itu pendapat yang bertentangan dengan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa para imam tidak terbatas hanya 12 orang. Akan selalu muncul imam-imam hingga hari kiamat, dan mereka juga manusia biasa dan tidak terjaga dari dosa. Dan Ahlussunnah wal Jama’ah juga menganggap bahwa keyakinan tentang itu bukan termasuk rukun iman.

 

  1. Meyakini bahwa Allah serupa dengan makhluk.

Ar-Razi berkata:

اعلم أن اليهود أكثرهم مشبّهة، وكان بدء ظهور التّشبيه في الإسلام من الرّوافض مثل بنان بن سمعان الذي كان يثبت لله تعالى الأعضاء والجوارح وهشام بن الحكم، وهشام بن سالم الجواليقي، ويونس بن عبد الرحمن القمي وأبي جعفر الأحول

“Ketahuilah, bahwa orang-orang Yahudi, kebanyakan mereka menyerupakan Allah dengan makhluk. Sedangkan awal munculnya perbuatan menyerupakan Allah dengan makhluk dalam Islam berasal dari kaum Syiah Rafidhah, seperti Banan bin Sam’aan yang menetapkan bagi Allah anggota badan, Hisyam bin Al-Hakam, Hisyam bin Salim Al-Jawaliqi, Yunus bin aAbdurrahman Al-Qummi dan Abu Ja’far Al-Ahwal.” (I’tiqadaat Firaq Al-Muslimin wa Al-Musyrikin)

Syiah Rafidhah adalah nama lain dari Syiah Imamiyyah. Nama-nama tadi adalah tokoh-tokoh Syiah Imamiyyah. Dan mereka semua telah menyerupakan Allah dengan makhluk.

Apa contohnya?

‘Abdul Qahir Al-Baghdadi berbicara tentang tokoh Syiah, Hisyam bin Salim Al-Jawaliqi:

هَذَا الجواليقى مَعَ رفضه على مَذْهَب الاماميه مفرط فِي التجسيم والتشبيه لِأَنَّهُ زعم أَن معبوده على صُورَة الانسان وَلكنه لَيْسَ بِلَحْم وَلَا دم بل هُوَ نور سَاطِع بَيَاضًا وَزعم انه ذُو حواس خمس كحواس الانسان

“Al-Jawaliqi ini selain ia seorang Syiah Rafidhah berdasarkan pendapat Syiah Imamiyyah, ia juga berlebihan dalam menyatakan bahwa Allah memiliki jisim dan menyerupakan Allah dengan makhluk. Sebab, ia mengklaim bahwa sembahannya (Allah) dalam bentuk manusia, akan tetapi tidak berdaging, dan berdarah. Bahkan, Dia itu cahaya yang bersinar dan putih. Dan ia mengklaim bahwa Tuhannya memiliki pancaindra seperti indra manusia.” (Al-Farq Baina Al-Firaq)

Dan Imam Ibnu Hazm menyebutkan:

قال هشام إن ربه سبعة أشبار بشبر نفسه

“Hisyam berkata bahwa Tuhannya setinggi tujuh jengkal dihitung dengan jengkal dirinya!” (Al-Fashl Fi)

Itu generasi awal Syiah Imamiyyah. Adapun orang-orang belakangan dari mereka…

Syekhul Islam berkata:

فَقَدِ اعْتَمَدَ مُتَأَخَّرُوهُمْ عَلَى كُتُبِ الْمُعْتَزِلَةِ، وَوَافَقُوهُمْ فِي مَسَائِلِ الصِّفَاتِ، وَالْقَدَر

“Sungguh, orang-orang belakangan dari mereka bersandar pada kitab-kitab Muktazilah dan menyetujui mereka dalam masalah sifat dan takdir.” (Minhaj As-Sunnah)

Menyetujui mereka dalam masalah sifat artinya mereka menolak sifat-sifat Allah seperti halnya Muktazilah.

 

(bersambung)

 

Siberut, 1 Jumada Al-Ulaa 1443

Abu Yahya Adiya