Orang ini menjadi golongan Allah. Allah rida kepadanya, memantapkan imannya, dan akan menempatkannya di dalam surga-Nya.
Siapakah orang yang mendapatkan kemuliaan seperti itu? Dan apa keistimewaan yang ia miliki sehingga mendapatkan kemuliaan seperti itu?
Allah berfirman:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.
“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah mantapkan keimanan dalam hati mereka dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya. Dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” (QS. Al-Mujadalah: 22)
Siapa yang mengaku mengesakan Allah dan mengikuti Rasulullah, maka tidak mungkin ia berkasih sayang dan memberikan loyalitas kepada orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu keluarga terdekat.
Imam Ibnul Qayyim berkata:
أتحب أعداء الحبيب وتدعي … حبا له ما ذاك بإمكان
“Engkau mencintai musuh-musuh kekasih lalu engkau mengaku mencintainya? Tentu saja itu tidak mungkin terjadi!” (Al-Kafiyah Asy-Syafiyah)
Karena itu, apa mungkin seorang mencintai Allah dan Rasul-Nya, tapi ia juga mencintai orang-orang yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya?
Marilah kita tengok pujian Allah kepada Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.
Allah berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; yaitu ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Kalau begitu, konsekuensi kecintaan seseorang kepada Allah yaitu mencintai apa yang Dia cintai dan mencintai siapa yang Dia cintai, dan juga membenci apa yang Dia benci dan membenci siapa yang Dia benci.
Ada ulama terdahulu yang ditanya:
بما تنال المحبة؟
“Bagaimana cara meraih cinta?”
Maka ia menjawab:
بموالاة أولياء الله ومعاداة أعدائه
“Dengan membela wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh-Nya.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Akibat Tidak Mencintai Musuh-Nya
Allah sebutkan dalam ayat tadi:
- “Mereka itulah orang-orang yang telah Allah mantapkan keimanan dalam hati mereka.”
Artinya, keimanan dalam hati mereka akan menjadi kokoh dan mantap.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ
“Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, menahan karena Allah, maka telah sempurna imannya. ” (HR. Abu Daud)
Imam Al-‘Azhim Abadi menjelaskan makna “membenci karena Allah”:
(وَأَبْغَضَ لِلَّهِ لَا) لِإِيذَاءِ مَنْ أَبْغَضَهُ لَهُ بَلْ لِكُفْرِهِ وَعِصْيَانِهِ
“Ia membenci karena Allah artinya bukan karena orang yang ia benci itu telah menyakitinya, akan tetapi karena ia telah kufur dan durhaka kepada Allah.” (‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud)
- “Dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya.”
Artinya, Allah akan menolong mereka di dunia dan akhirat. Dan kalau Allah sudah menolong hamba-Nya, maka akankah ia tetap resah, gundah, dan gelisah?
- “Dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.”
Artinya, mereka akan masuk surga dan menikmati surga. Maka, adakah kenikmatan yang lebih besar daripada surga?
Mereka kekal di dalamnya artinya mereka tidak khawatir mati dan tidak khawatir akan meninggalkannya.
Berbeda dengan di dunia. Seseorang bisa jadi tinggal di benteng yang tinggi, tapi tetap saja ia akan menemui yang namanya mati. Dan bisa jadi seseorang tinggal di rumah yang penuh dengan kemewahan, tapi tetap saja suatu saat ia akan meninggalkannya.
- “Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.”
Artinya, tatkala sikap mereka membuat marah musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan rida kepada mereka. Sebagai ganjaran yang sesuai dengan perbuatan mereka.
- “Mereka itulah golongan Allah.”
Adakah kebanggaan yang lebih besar daripada dianggap sebagai golongan Allah?
- “Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.”
Artinya, mereka akan beruntung. Sedangkan beruntung dijelaskan para ulama artinya yaitu:
الفوز بالمطلوب، والنجاة من المرهوب
“Mendapatkan apa yang diinginkan dan selamat dari apa yang dikhawatirkan.“
Lantas, maukah kita mendapatkan apa yang kita inginkan dan selamat dari apa yang kita khawatirkan di akhirat nanti?
Siberut, 24 Syawwal 1441
Abu Yahya Adiya






