“Jadilah!”, maka jadilah sesuatu itu. Itulah terjemahan dari “kun fayakuun”.
Tokoh Tarekat Naqsyabandiyyah, Muhammad As’ad An-Naqsyabandi berkata:
وسئل أحد أكابر الأئمة عمن قال: أن من كرامات الولي أن يقول للشيء: كن فيكون. فنهى أحدهم هذا القائل عن ذلك؟ فقال – أي لمن نهاه – من أنكر ذلك فعقيدته فاسدة. فهل ما ادعاه صحيح – أي أن من كرامات الولي أن يقول للشيء: كن فيكون؟
“Salah seorang imam besar (Naqsyabandiyyah) ditanya tentang orang yang mengatakan bahwa di antara karomah seorang wali yaitu mengatakan kepada sesuatu: ‘Jadilah!’ maka jadilah sesuatu itu.’ lalu seseorang melarang orang itu mengatakan demikian. Maka berkatalah orang yang berkata tadi kepada orang yang melarangnya, ‘Siapa yang mengingkari demikian, maka akidahnya rusak!’. Apakah yang ia klaim itu benar, yakni di antara karomah seorang wali yaitu mengatakan kepada sesuatu: ‘Jadilah!’ maka jadilah sesuatu itu?
فأجاب بأن ما قاله صحيح إذ الكرامة الأمر الخارق للعادة يظهره الله تعالى على يد وليه
Imam besar itu menjawab bahwa apa yang ia katakan itu benar. Karena, karomah adalah perkara luar biasa yang Allah tampakkan lewat wali-Nya.” (Nur Al-Hidayah wa Al-‘Irfan Fii Sirr wa At-Tawajjuh wa Khatm Al-Khawajikan)
Menurut tarekat Naqsyabandiyyah, seorang wali bisa menciptakan sesuatu hanya dengan mengatakan:
كُنْ
“Jadilah!”
Kalau itu sudah terucap, maka terciptalah sesuatu!
Padahal, Allah telah berfirman:
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya urusan-Nya bila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Yasin: 82)
Apakah mereka ingin membuat tandingan bagi Allah?
Apakah mereka ingin membuat sekutu bagi Allah?
Allah berfirman:
أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
“Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka? Katakanlah: ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS. Ar-Ra’d: 16)
Siberut, 5 Dzulhijjah 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber: Ath-Thariqah An-Naqsyabandiyyah karya Dr. ‘Abdurrahman Dimasyqiyyah.






