Suatu hari, seorang pelajar SMA mendatangi Syekh Abu Ishaq Al-Huwaini lalu berkata:
أريد أن تدلني على كتاب، لأن معنا زميلاً نصرانياً في الفصل، وأريد أن أبين له فساد دين النصرانية.
“Aku ingin Anda menunjukkan kepadaku suatu buku. Karena, aku punya teman Nashrani di kelas. Aku ingin menjelaskan kepadanya kerusakan ajaran Nashrani.”
Syekh pun bertanya kepadanya:
هل تعرف كتاب الله عز وجل؟
“Apakah engkau mengetahui Al-Quran?”
Pelajar itu menjawab:
نعم.
“Ya.”
Syekh menyebutkan:
(الرحمن على العرش استولى)
“Tuhan Yang Maha Pengasih, yang istaula (menguasai) Arsy.”
Pelajar itu pun berkata:
لا. (استوى)
“Bukan istaula (menguasai), tetapi istawa (tinggi di atas).”
Pelajar itu bisa mengoreksi Syekh, karena ia hafal firman Allah:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Tuhan Yang Maha Pengasih, yang istawa (tinggi di atas) Arsy.” (QS. Thaha: 5)
Syekh berkata kepadanya:
حسناً، (استولى) أي: (علا) هذا تأويل المعتزلة
“Bagus. istaula (menguasai) ini adalah takwil kaum Muktazilah.”
Kaum Muktazilah menolak ketinggian Allah di atas Arsy, karena itu mereka membelokkan makna istawa dalam ayat tadi menjadi istaula (menguasai), sehingga makna ayat tadi berubah menjadi: “Tuhan Yang Maha Pengasih, yang menguasai Arsy.”
Syekh melanjutkan dengan pertanyaan:
هل هذا التأويل صحيح؟
“Apakah takwil Muktazilah ini benar?”
Pelajar itu menjawab:
لا أعرف
“Aku tidak tahu.”
Syekh pun berkata kepadanya:
أنت لا تعرف إلهك الذي تعبده، فكيف ترد على النصارى؟
“Engkau tidak tahu Tuhanmu yang engkau sembah, maka bagaimana bisa engkau membantah orang-orang Nashrani?” (Durus Li Asy-Syekh Abi Ishaq Al-Huwaini)
Untuk membantah orang-orang kafir, seorang muslim harus mengetahui terlebih dahulu agamanya. Ia mesti mempelajarinya dan mendalaminya.
Kalau tidak demikian, bukan mustahil ia menjatuhkan agamanya dalam keadaan ia merasa sedang membela agamanya!
Siberut, 23 Rajab 1444
Abu Yahya Adiya






