Muak Mendengar Ayat?

Muak Mendengar Ayat?

“Ayat dan hadis kerap dihambur-hamburkan. Satu dua kalimat langsung penuh sesak dengan kutipan-kutipan dari Kitab Suci.”

Itulah pernyataan seorang tokoh “Islam” liberal ketika menggambarkan orang-orang yang ia sebut “kaum fundamentalis”.

Lalu ia membandingkan kebiasaan mereka dengan kebiasaan guru-gurunya yang hanya mengutip pendapat ulama atau kiai dan jarang mengutip ayat maupun hadis.

Ia berkata, “Itulah pengalaman yang membekas pada diri saya hingga sekarang. Dan itulah yang membuat saya agak ‘muak’ melihat kaum fundamentalis di kampus-kampus yang setiap bicara selalu memercikkan ayat dan hadis di mana-mana!”

Lihatlah, saya agak ‘muak’!

Ungkapan yang begitu ‘tulus’. Tanpa dibuat-buat.

Makanya, tentu saja ia akan muak mendengar firman Allah berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap yang lain, nanti lenyaplah pahala segala amal kalian sedangkan kalian tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat: 1)

Kalau meninggikan suara melebihi suara Nabi ﷺ saja bisa menyebabkan lenyapnya pahala seluruh amalan, maka bagaimana pula dengan meninggikan suatu pendapat melebihi petunjuk Nabi?!

Dan tentu saja ia akan kian muak mendengar pernyataan Ibnu ‘Abbas berikut ini:

أُرَاهُمْ سَيَهْلِكُونَ أَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ، وَيَقُولُ: نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ

“Aku memandang mereka akan binasa. Kukatakan, ‘Nabi ﷺ bersabda demikian’, namun mereka malah berkata, ‘Abu Bakar dan ‘Umar melarang demikian.” (HR. Ahmad)

Kalau lebih mengutamakan ucapan ‘Abu Bakar dan ‘Umar daripada ucapan Nabi ﷺ saja mengundang siksa, maka bagaimana pula kalau lebih mengutamakan ucapan selain keduanya daripada ucapan nabi-Nya?!

Bagaimana pula kalau lebih mengutamakan ucapan ulama, ustaz, dan tokoh panutan daripada ucapan nabi-Nya?!

Dan tentu saja ia juga akan makin muak mendengar pernyataan Abu Qilabah berikut ini:

إِذَا حَدَّثْتَ الرَّجُلَ بِالسُّنَّةِ، فَقَالَ: دَعْنَا مِنْ هَذَا وَهَاتِ كِتَابَ اللهِ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ ضَالٌّ

“Kalau engkau menyampaikan sunnah kepada seseorang lalu ia berkata, ‘Jauhkan kita dari itu, berikan saja kitab Allah’, maka ketahuilah ia orang yang sesat!” (Siyar A’lam An-Nubala)

Kalau menerima Al-Quran tapi tidak menerima hadis saja sesat, maka bagaimana pula kalau lebih mengutamakan pendapat manusia daripada keduanya?!

Dan tentu saja ia akan benar-benar muak mendengar pernyataan Imam Adz-Dzahabi berikut ini:

وَإِذَا رَأَيْتَ المُتَكَلِّمَ المُبْتَدِعَ يَقُوْلُ: دَعْنَا مِنَ الكِتَابِ وَالأَحَادِيْثِ الآحَادِ وَهَاتِ العَقْلَ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ أَبُو جَهْلٍ

“Dan bila engkau melihat orang ahli kalam dan ahli bid’ah berkata, ‘Jauhkanlah kita dari Al-Quran dan hadis ahad. Tunjukkan saja dalil akal!’, maka ketahuilah, ia adalah Abu Jahl!

وَإِذَا رَأَيْتَ السَّالِكَ التَّوْحِيْدِيَّ يَقُوْلُ: دَعْنَا مِنَ النَّقْلِ وَمِنَ العَقْلِ وَهَاتِ الذَّوْقَ وَالوَجْدَ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ إِبْلِيْسُ قَدْ ظَهَرَ بِصُوْرَةِ بَشَرٍ أَوْ قَدْ حَلَّ فِيْهِ

Dan bila engkau melihat seorang pengikut suluk Tauhidi berkata, ‘Jauhkan kita dari dalil-dalil naqli dan dalil-dalil akal. Tunjukkan saja dalil perasaan!’, maka ketahuilah, ia adalah iblis yang telah menampakkan dirinya dalam rupa manusia atau telah menyatu ke dalam dirinya!” (Siyar A’lam An-Nubala)

Makhluk yang alergi dengan ayat dan hadis hanyalah iblis dan bala tentaranya.

Tatkala mendengar ayat dan hadis dibacakan, Iblis dan bala tentaranya kepanasan.

Kalau mereka melihat ada orang yang membacakan ayat dan hadis, mereka akan kabur atau memaksakan diri untuk bertempur!

Allah berfirman:

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا

“Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya engkau melihat tanda-tanda keingkaran pada wajah orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 72)

 

Siberut, 17 Rabi’ul Awwal 1444

Abu Yahya Adiya