Suatu hari Imam Ahmad bin Abi Nashr Al-Maaliini memasuki masjid Jami ‘Amru bin ‘Al-Ash di Mesir bersama beberapa sahabatnya. Tatkala beliau duduk, datanglah seorang syekh dan berkata:
أنتم أهل خراسان أهل سنة وهذا هو موضع الأشعرية فقوموا
“Kalian orang-orang Khurasan adalah Ahlussunnah. Dan ini adalah tempat Asy’ariyyah, maka bangunlah!” (Dzam Al-Kalam)
Kisah singkat ini menunjukkan bahwa pertentangan antara Ahlussunnah dan sekte Asy’ariyyah sudah berlangsung lama.
Imam Ahmad bin Abi Nashr Al-Maaliini ini wafat di tahun 412 H, yakni sekitar 10 abad yang lalu!
Bahkan, sejak awal munculnya sekte Asy’ariyyah, para ulama sudah angkat bicara dan memperingatkan umat dari mereka.
Imam Abu Al-‘Abbas bin Suraij yang bergelar Asy-Syafi’i kedua (wafat tahun 303 H) berkata:
لَا نَقُولُ بِتَأْوِيلِ الْمُعْتَزِلَةِ وَالْأَشْعَرِيَّةِ…بَلْ نَقْبَلُهَا بِلَا تَأْوِيلٍ، وَنُؤْمِنُ بِهَا بِلَا تَمْثِيلٍ
“Kami tidak sependapat dengan takwil yang dilakukan Muktazilah, Asy’ariyyah… Bahkan, kami menerimanya (ayat dan hadis tentang sifat Allah) tanpa takwil. Dan kami beriman kepadanya tanpa menyerupakannya dengan makhluk.” (Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah)
Kalau sejak zaman itu saja sudah ada pertentangan antara Ahlussunnah dan sekte Asy’ariyyah, maka jangan heran kalau di zaman ini pun pertentangan itu ada.
Jangan heran jika sekte Asy’ariyyah begitu getol menentang dakwah Ahlussunnah. Dan jangan heran pula jika Ahlussunnah tetap memperingatkan umat dari penyimpangan sekte Asy’ariyyah.
Kebenaran dan kebatilan akan selalu berseteru hingga hari kiamat terjadi.
Siberut, 2 Shafar 1445
Abu Yahya Adiya






